Minggu, 09 Agustus 2020

Tragedi Pasca Jatuhnya Bom Atom di Hiroshima Akhiri Perang Dunia Ke- 2

Jakarta I Daily Mail Indonesia. NetAmerika Serikat menjadi negara pertama dan satu-satunya yang menggunakan persenjataan atom selama masa perang. Pada 6 Agustus Tahun 1945, Amerika menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima, Jepang.

Sekitar 80 ribu orang menjadi korban sebagai akibat langsung ledakan itu, dan 35 ribu lainnya luka-luka. Setidaknya 60 ribu lainnya tewas pada akhir tahun itu karena efek radiasi dari bom tersebut. Selain mengakhiri Perang Dunia II, jatuhnya bom atom di Jepang bisa dilihat sebagai ‘tembakan pertama’ Perang Dingin.

Jatuhnya bom atom di Jepang menandai berakhirnya Perang Dunia II, banyak sejarawan berpendapat peristiwa itu juga memicu Perang Dingin. Sejak Tahun 1940, Amerika Serikat telah berupaya mengembangkan senjata atom, setelah mendapat peringatan Nazi Jerman telah melakukan penelitian tentang senjata nuklir.

Pada saat Amerika Serikat berhasil melakukan uji coba pertama (di padang pasir di New Mexico pada Juli Tahun 1945), Jerman telah dikalahkan. Perang melawan Jepang di Pasifik, bagaimanapun, terus berkecamuk.

Presiden Harry S. Truman, diperingatkan oleh beberapa penasihatnya, setiap upaya untuk menginvasi Jepang akan mengakibatkan korban Amerika. Dia kemudian memerintahkan agar senjata baru tersebut digunakan untuk mengakhiri perang dengan cepat.

Tidak lama sebelum pengiriman bom atom, Presiden Harry S. Truman memperkenalkan dunia pada program penelitian atom yang sebelumnya sangat rahasia (yang dikenal sebagai Proyek Manhattan), dan menggandakan ancaman pada Negara Jepang, satu-satunya musuh Amerika yang tersisa dalam perang.

Jika Negara Jepang tidak menerima syarat dan prayarat penyerahan tanpa syarat yang dirancang oleh para pemimpin Sekutu dalam Deklarasi Potsdam, Truman menulis, “mereka mungkin akan didatangi hujan reruntuhan dari udara, yang belum pernah terlihat di bumi ini.”

Pada tanggal 6 bulan Agustus Tahun 1945, pesawat pengebom Amerika, B-29 Enola Gay, menjatuhkan bom seberat lima ton di atas kota Hiroshima, Jepang. Ledakan yang setara dengan kekuatan 15 ribu ton TNT itu menyulap empat mil persegi kota menjadi reruntuhan dan menewaskan 80 ribu orang.

Puluhan ribu lainnya meninggal pada minggu-minggu berikutnya karena luka dan keracunan radiasi. Tiga hari kemudian, bom lain dijatuhkan di kota Nagasaki, menewaskan hampir 40 ribu lebih orang. Beberapa hari kemudian, Negara Jepang mengumumkan mereka akan menyerah.

Pada tahun-tahun sejak dua bom atom dijatuhkan di Negara Jepang, sejumlah sejarawan berpendapat senjata tersebut memiliki dua tujuan. Pertama, mengakhiri perang dengan Jepang dengan cepat dan menyelamatkan nyawa warga Amerika.

Ada dugaan, tujuan keduanya adalah untuk mendemonstrasikan senjata baru pemusnah massal kepada Uni Soviet. Pada Agustus Tahun 1945, hubungan antara Uni Soviet dan Amerika Serikat memburuk. Konferensi Potsdam antara Presiden AS Harry S. Truman, pemimpin Rusia Joseph Stalin, dan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill (sebelum digantikan oleh Clement Attlee) berakhir hanya empat hari sebelum pengeboman Hiroshima.

Pertemuan tersebut diwarnai dengan tudingan dan kecurigaan antara pihak Amerika dan Soviet. Tentara Rusia menduduki sebagian besar Eropa Timur. Truman dan para penasihatnya berharap bahwa monopoli atom AS dapat menawarkan pengaruh diplomatik dengan Soviet.

Dengan cara ini, peristiwa jatuhnya bom atom di Jepang bisa dilihat sebagai ‘tembakan pertama’ Perang Dingin. Jika para pejabat AS benar-benar yakin mereka dapat menggunakan monopoli atom mereka untuk keuntungan diplomatik, mereka memiliki sedikit waktu untuk melaksanakan rencana mereka itu. Pada tahun 1949, Uni Soviet telah mengembangkan bom atom mereka sendiri dan perlombaan senjata nuklir pun dimulai.(*)

Label: ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda