Kamis, 27 Agustus 2020

BPMA dan Zaratex NV Sosialisasi Serta Konsultasi Amdal Di Lhokseumawe


LHOKSEUMAWE
Daily Mail Indonesia.net
- Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) melakukan  kegiatan sosialisasi dan konsultasi publik studi Amdal rencana pengembangan Lapangan Peusangan B, Selat Malaka, Blok Lhokseumawe, di Hotel Diana Kota Lhokseumawe, Kamis (27/8/2020).

Pusat Penelitian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (PPLH-SDA) Universitas Syah Kuala (Unsyah) Banda Aceh akan menampung sejumlah aspirasi masyarakat terkait analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal) pada rencana pengembangan gas di lapangan Peusangan B, Selat Malaka, Blok Lhokseumawe.

"Kita akan menampung sejumlah aspirasi masyarakat terkait kerusakan Amdal pada saat pengembangan operasional gas yang direncanakan akan dilakukan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Zaratex NV," kata Ketua PPLH-SDA Unsyiah Prof Dr Mahidin ST MT.

Dikatakannya, Lapangan gas yang terletak tujuh kilometer lepas pantai Lhokseumawe tersebut direncanakan mulai produksi pertamanya pada awal tahun 2023 mendatang.

"Sosialisasi ini sangat penting sebagai titik awal memperoleh persetujuan di bidang lingkungan, sebelum memasuki tahapan lanjutan pengembangan lapangan Peusangan B, Selat Malaka dan Blok Lhokseumawe,"kata Mahidin.

Menurut Mahidin, sosialiasi dan konsultasi publik tersebut juga untuk menghimpun berbagai saran, pendapat dan masukan dari pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan di kota Petro Dollar ini terkait rencana pengembangan proyek migas di masa mendatang.

"Berbagai masukan dan saran sangat diperlukan agar dalam proses eksplorasi maupun eksploitasi tidak terganggu dan berjalan sesuai jadwal serta tidak menimbulkan dampak kerusakan lingkungan yang serius,"katanya.


Pada kesempatan ini juga sejumlah permintaan dari nelayan tradisional yang mengharapkan kegiatan pengembangan gas alam di Blok Lhokseumawe tidak merusak sumber penghasilan mereka. Karena 90 persen nelayan tradisional tersebut tergolong keluarga miskin.

"90 persen (warga kena dampak) merupakan nelayan tradisional yang notabene adalah warga dengan pendapatan di bawah rata-rata, oleh karena itu dengan kegiatan ini maka kita dapat mengetahui keluhan Amdal dari para peserta,"kata Mahidin.

Ia menambahkan, sebelum dilakukan penyusunan Amdal, PPLH-SDA Unsyiah mengadakan sosialisasi dan konsultasi publik bertujuan menyampaikan penjelasan serta mendapat masukan tentang rencana pengembangan lapangan migas yang akan terdiri dari beberapa fasilitas utama beserta potensi dampaknya.

"Salah satu bagian dokumen Amdal akan menegaskan mengenai keterlibatan seluruh stakeholder," jelasnya. 

Kegiatan pengembangan gas alam Blok Lhokseumawe, berada di Selat Malaka, sekitar tujuh kilometer dari garis pantai, dimana para nelayan setiap hari mencari ikan di kawasan itu, sehingga nelayan tersebut mengharapkan aktivitas perusahaan ekplorasi gas itu tidak menganggu mata pencariannya.

"Diantara permintaan warga yang dominan, supaya tidak berdampak kepada kegiatan nelayan mencari nafkah, karena sepanjang lokasi pengembangan lapangan migas terdapat rumpon (alat bantu penangkapan ikan) milik nelayan tradisional,"katanya.

Ia menyebutkan dalam kegiatan sosialisasi ini seluruh permintaan nelayan akan dimasukan dalam dokumen, sehingga mereka tidak dirugikan.

"Kita akan cari solusinya, apakah apakah rumpon tersebut dipindahkan atau solusi dalam bentuk ganti rugi. Semoga dengan kegiatan sosialisasi dan konsultasi publik studi ini, segala permasalahan ataupun keluhan tersebut dapat diselesaikan,"pungkasya. (eriiskandar)

Label: , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda